Jan 27 2011

Seni Beluk dan Wawacan

Published by under Uncategorized

Perbincangan 4 mata yang mengasikkan.

Rasita Satriana S.Kar., M.Sn; beliau merupakan salah satu Dosen yang ikut memajukan Intitut Seni Indonesia Surakarta. Beliau di ISI-Ska mengajar Silang Gaya Sunda di jurusan Karawitan dan Etnomusikologi. Pengalaman beliau akan berseni karawitan sunda sudah mengakar dalam diri beliau. Dengan bakat yang beliau miliki, beliau bersekolah sambil mencari uang saku untuk dirinya sendiri. Hingga akrirnya beliau melanjutkan kuliah Sarjana Muda di STSI Bandung, S-1 di STSI Surakarta, S-2 Pengkajian Seni di ISI-Surakarta, dan sekarang melanjutkan Studi Doktoralnya di UGM.

Sebagai pengajar karawitan dan tembang sunda, saya tertarik untuk berbincang-bincang tentang seni Beluk Wawacan dengan beliau, seni vokal yang mirip dengan mocopatan di Jawa Tengah. Menurut beliau seni Beluk Wawacan itu sekarang sudah mati, arti mati disini adalah berhenti kekaryaannya serta seni beluk ini sudah tidak berkembang lagi di masyarakat. Ada seorang dosen STSI Bandung mencoba merevitalisasi seni beluk wawacan, tetapi yang direvitalisasi (digali) tidak menuju ke wawacan namun ke teknik beluknya. Beluk Wawacan pada dasarnya terdiri dari dua buah kesenian sunda, seni wawacan dan seni beluk.

Berbicara tentang Wawacan, Dosen yang ahli dengan tepakan kendanganya ini berpendapat bahwa, “wawacan itu syair lakon berdasar pupuh atau puisi lama yang bercerita/berlakon yang penceritaannya menggunakan aturan pupuh”. Jumlah pupuh yang terdapat disana (Jabar) ada 17 macam pupuh. Dari ke-17 pupuh tersebut menurut penuturan beliau semuanya sama dengan pupuh mocopat dan beberapa sekar ageng dan tengahan yang ada disini (Jateng). Beliau menyambung,”dari ke-17 pupuh yang ada disana ada satu pupuh yang tidak ada di sini, yaitu pupuh ladrang. Pupuh ladrang itu sama aturan guru lagu dan wilangannya sama dengan pupuh lambang”. Karakter dari tiap pupuh sama dengan pupuh yang ada disini. Dicontohkan oleh beliau, pupuh asmarandana untuk orang yang sedang jatuh cinta. Wawacan dibuat sudah menggunakan aturan pupuh, baik guru lagu maupun wilangan. “Kalau disini (Jateng) satu pupuh terdiri dari beberapa bait, disana (Jabar) satu pupuh ya satu bait itu”.

Beluk sendiri merupakan laupan orang ladang untuk mengisi keheningan. Beluk juga diartikan sebagai nyayi tanpa syair dengan range yang tinggi, dicontohka oleh beliau orang di satu tempat melantunkan beluk kemudia di tempat lain ada orang yang mendengar lalu menyahutnya. Hingga terkesan sahut-sahutan layaknya kokok ayam dipagi hari. Beluk menurut penuturan beliau juga sering dilakukan oleh orang yang membajak sawah untuk menghibur kerbaunya, dan juga digunakan untuk eteran atau pawai di pagi hari saat seorang anak akan di-khitan mandi. Seni beluk ini mulai pudar dan hilang seiring dengan perkembangan zaman. “Sawah sekarang dibajak dengan traktor seandainya menggunakan bajak pun orang sekarang sudah tidak ada yang melantunkan beluk, anak disunat di dokter/ bong-supit sudah tidak di apa-apaken….”, tutur Dosen pengajar Karaeitan Sunda. Hal terbut dikarenakan pergeseran budaya. Tradisi menyanyi beluk sudah tidak populer.

Beluk wawacan biasa disajikan untuk selamatan kelahian bayi, khitanan, dll. Sebagai funsi untuk selamatan kelahiran bayi, bagi orang yang punya uang dilakukan selama 7 malam, di mana cerita yang disajikan tersebut di tiap malamnya selalu bersambung sampai pada malam ketujuhnya selesai. Cerita yang diambil sesuai event. Beluk wawacan ini dilakukan sebagai pengisi/hiburan lek-lekan (tidak tidur semalaman). Beluk wawacan dilakukan minimal 3 orang seniman. Satu seniman membacakan pupuh, seniman yang satunya menembangkan pupuh, yang satunya lagi menembangkan pupuh dengan teknik beluk dengan suara tinggi dan bebeas sehingga tekadang syair tidak terdengar jelas. Orang yang membacakan pupuh dengan tempo yang pelan dan artikulasi kata yang jelas disebut pengilo, orang yang menembangakan pupuh yang dibacakan tukang ngilo tadi disebut ngajual/penjual, dan orang yang menembangkan pupuh dengan teknik beluk disebut naekeun/meuli/pembeli. Pertunjukan beluk wawacan sendiri dilakukan bergiliran, sambung menyambung. Dulu ke tiga pemain itu mampu menembang, namun seiring dengan perkembangan zaman hanya sedikit orang yang mampu melantunkan tembang. Laras yang biasa digunakan dalam seni Beluk Wawacan adalah laras salendro, tapi tidak menutup kemungkinan menggunakan laras pelog.

“Beluk Wawacan itu apa ya?”, Beliau bertanya pada dirinya sendiri. Kemudian selang beberapa waktu beliau menjelaskan,”itukan tadinya cuman kelangenan aja di sore hari terus ditempelken ke wawacan, di tempelken ke apa ke apa ke seni yang lain”. Tempo dulu tidak ada pertunjukan wawacan yang dipanggungkan (hanya di lingkungan keluarga saja). Untuk teknik-teknik beluknya sendiri banyak digunakan di Pertunjukan Jenaka Sunda. Misalkan: kidung “Utun Dekok” menceritakan si-Utun dan Dekok, pertunjukan Jenaka Sunda ini dilakukan oleh 2 orang dimana di tengah-tengah pertinjukan  digunakan teknik laupan itu. Dalam seni jenakan sunda digunakan tembang kandag (tembang yang memiliki tempo ajeg/metris) dalam penyajiannya. Menggunakan iringan sebuah kecapi, saat jenaka sunda ini sudah di selingi teknik Beluk, kecapi mengiringinya layaknya gender di jawa sehingga tembang berubah menjadi seperti palaran. Cerita yang diangakat bercerita tentang masa ke-emasan kerajaan Padjajaran.

“Wawacan merupakan syairnya bukan tembang, setelah seni wawacan ini di angkat ke seni pertunjukan (beluk wawacan), kesenian itu dibawakan dengan tembang rancag/tembang pupuh (tembang tanpa banyak menggunakan variasi (seperti mocopat)) kemudian diteruskan dengan membelinya/teknik beluk (dengan lihainya beliau memberikan contoh seni wawacan)”, beliau menegaskan kembali. “Seni wawacan ini mati karena sekarang sudah tidak ada yang menanggapnya”, lantun bapak yang saya kenal dengan sebutan Mang Itot (lingkungan keluarganya) ini dengan khas bahasa Indonesia yg berbau sundanya.

Wawacan tidak digunakan untuk suasana berkabung dan juga ruwatan. Seni yang vokal yang digunakan yang digunakan untuk ruwatan dinamakan seni Pantun. Seni pantun memiliki beranekan ragam cerita antara lain: Lutung Kasarung, Semur Bandung, Kalang Kadomas, dll. Ada satu cerita seni Pantun yang  ditembangun khusus untuk ruwatan (Betharakala judulnya). Dalam seni pantun iringan yang digunakan adalah kecapi pantun. Kecapi ini memiliki stuktur bentuk yang berbeda. Seni pantun ini biasa ditembangkan dengan laras Salendro, namun di daerah Bogor ada seorah tokoh bernama Anjeun Andum yang mempelopor seni pantun dengan laras pelog. Cerita yang diangakt dari seni Pantun ini tentang masa keagungan kerajaan Padjajaran (nostalgia kerajaan Padjajaran). Dari seni pantun sendiri terdapat satu seni yang diangkat ke kesenian lain yang dinamakan seni Rajah. Seni rajah memiliki cirikhas tersendiri baik dari segi vokal maupun petikan kecapiannya.

Dilihat dari jenisnya tembang di daerah Jawa Barat dikelompokkkan menjadi 3 kategori: Cianjuran (hidup dari cianjur dan memiliki khas daerah cianjur, dengan iringan kecapi), ciawian (tembang yang berasal dari  masyarakat ladang, mengginakan iringan kecapi). Cigawiran (tembang tanpa iringan), Dari kategori tersebut, seni wawacan maupun beluk wawacan masuk dalam bentuk tembang Ciawian/cigawiran(jika menggunakan iringan). Sedangkan seni Pantun masuk dalam kategori Cianjuran. Untuk cigawiram sendiri hidup di lingkungan pesantren, tembang-tembangnya berbau agamis tembang cigawiran sendiri digunakan untuk penyebaran agama Islam. Nama tembang Cigawiran sendiri diambil dari nama pesantren Cigawir. Seni cigawiran sendiri digunakan untuk berbagai event seperti panghargyan temanaten,ada juga yang digunakan untuk talkin/upacara orang mati. Ada syair yang khusus yang ditembangkan oleh seorang yang pandai cigawir sewaktu melayat, tembang itu isinya memberikan gambaran-gambaran kepada para pelayat bagaimana orang mati itu, bagaimana kehidupan di alam barzah (alam kubur), dsb. Selain itu ada pula syair yang ditembangkan khusu untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan.

No responses yet

Jan 27 2011

Hello world!

Published by under Uncategorized

Welcome to Blog Mahasiswa Sites. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

3 responses so far